Nelayan Harap Kebijakan Alat Tangkap Ikan Bisa Seimbang

Nelayan Harap Kebijakan Alat Tangkap Ikan Bisa Seimbang
Nelayan Harap Kebijakan Alat Tangkap Ikan Bisa Seimbang

Nelayan Harap Kebijakan Alat Tangkap Ikan Bisa Seimbang
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diharapkan bisa seimbang dalam mengeluarkan kebijakan penggunaan alat tangkap. Seimbang yang dimaksud ialah memperhatikan sisi ekonomi maupun sisi keberlanjutan ekosistem lautnya.

"Pro dan kontra penggunaan alat tangkap kian memanas di tengah publik saat ini, terutama di kalangan nelayan. Era Susi cantrang, pukat harimau dan lainnya dilarang, namun kini kapal-kapal yang menggunakan itu semua kembali beroperasi. Keduanya tidak ada yang salah, punya sisi positif dan negatifnya. Harapannya pemerintah (KKP) sebagai regulator dalam mengeluarkan Kebijakan Kelautan bisa seimbang, melihat sisi ekonomi maupun keberlanjutannya," kata Ketua Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU), Witjaksono dalam keterangannya, Rabu (22/7/2020).

Dari sisi nelayan, sambung pria yang akrab di sapa Witjak ini, memang tidak mudah untuk mengganti alat tangkap, karena butuh investasi besar. Apalagi mayoritas nelayan kita masih menggunakan kapal di bawah 15 Gross Tonnage (GT). "Bagi Nelayan kecil memang berat, untuk mengganti alat tangkap mereka. Buat operasional melaut saja seperti kebutuhan bahan bakar dan lainnya mereka kadang harus gali lobang, tutup lobang," sambungnya.

Tapi, lanjut Witjak, jika Penangkapan Ikan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan tetap dibiarkan akan merusak keberlanjutan dari ekosisitem laut kita. Sementara, sebagai negara kepulauan, masa depan Indonesia ada di Laut. "Seperti yang sering kita denger dari Pak Jokowi, keinginan mewujudkan Indonesia menjadi negara poros maritim dunia sangatlah besar, kalau laut kita rusak mustahil untuk mewujudkan itu semua. Untuk itu, harus ada keseimbangan dalam mengambil kebijakan." lanjutnya.

Menurutnya, arah yang ditempuh oleh KKP harus dengan Kebijakan Nelayan dan prioritas, yaitu, boleh penggunaan alat tangkap seperti cantrang, tapi untuk kapal-kapal di bawah 15 GT, diatasnya harus menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
Nelayan Harap Kebijakan Alat Tangkap Ikan Bisa Seimbang
Nelayan Harap Kebijakan Alat Tangkap Ikan Bisa Seimbang
"Kami sadar betul anggaran dari pemerintah terutama KKP tidak bisa menjangkau sekitar 2,8 juta nelayan untuk mengganti alat tangkapnya. Pemberian bantuan alat tangkapnya prioritas di kapal-kapal kecil dulu. Kalau kapal besar saya rasa punya pemilik modal besar harus wajib menggunakan alat tangkap ramah lingkunga," ujarnya.

Kalau pun anggarannya masih terbatas, menurut Witjak lagi, adanya kerja sama dengan pihak perbankan, dengan memberikan kemudahan pinjaman kredit, atau bisa disubsidi oleh pemerintah.

"Sekarang banyak Kredit Usaha Rakyat dari bank terutama Bank BUMN, bisa jalin kerjasama dengan bank. Ada pengawasan ketat, siapa yang berhak menerima kredit siapa yang tidak. Dengan begitu, lambat laun kapal-kapal nelayan kita baik yang kapal besar maupun kapal kecil bisa menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Itu pun bisa dilakukan secara berkala," tutur sang Tokoh Muda Maritim tersebut.
[Kelautan][twocolumns]

Tentang witjaksono.id

Website witjaksono.id ini dibuat untuk memperkenalkan seorang pengusaha muda sukses terkenal yaitu Mas Witjaksono. Di sini, Anda akan menemukan informasi mengenai latar belakang, prestasi, dan kontribusi yang telah dicapai oleh Mas Witjaksono. Selain itu, website ini juga menyajikan berbagai foto dan video yang menggambarkan kehidupan, karier, serta kegiatan sosial yang di lakukan Mas Witjaksono. Kami berharap bahwa melalui website ini, Anda akan lebih mengenal dan menyerap ilmu yang sudah Mas Witjaksono berikan. Dibawah ini kami akan memberikan informasi mengenai Witjaksono. Witjaksono, lahir di Pati, November 1981. Beliau merupakan Pengusaha Muda Sukses Indonesia, yang mempunyai puluhan perusahaan. Mas Witjaksono ataupun yang lebih akrab disapa Mas Witjak. Mas Witjaksono mulai dikenal banyak orang, khususnya para pebisnis muda. Mas Witjaksono banyak dikenal orang semenjak beliau sukses membesarkan 2 perusahaannya sampai go public. Mas Witjaksono sempat menceritakan gimana beliau mengawali bidang usaha dari modal‘ cuma’ 10 juta rupiah sampai berharga triliunan rupiah. Perjalanannya tidak gampang. Beliau awal kali tiba ke Jakarta dalam tahun 2004 sebab ditawari kegiatan di Australia oleh seseorang kawannya. Tetapi harapannya wajib karam sebab izin Mas Witjak ditolak dengan alibi tidak memiliki uang yang lumayan di dana buat menjamin kehidupan. Dari situlah Witjaksono termotivasi buat jadi pebisnis yang berhasil. Witjaksono ialah figur belia NU. Meski umurnya sedang terbilang masih muda, yaitu 40 tahun, tapi beliau sudah dipercaya menjabat bermacam posisi berarti di PBNU serta pula sebagian instansi serta komunitas yang lain. Beberapa instansi serta komunitas, antara lain sebagai berikut: 1. Ketua Umum SNNU (Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama) 2. Ketua Kornas Pertanian PBNU – Kementan 3. Wakil Ketua Pengusaha & Profesional Nahdliyin (P2N) 4. Ketua Pergerakan Kyai & Mubaligh NU 5. Wakil Ketua KADIN Jawa Tengah 6. Penasihat Komunitas Bisnis “Tangan Di Atas (TDA)” 7. Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia 8. Dewan Penasehat Asosiasi Petani Muda Indonesia (HTMI) 9. Wakil Sekjen Ikatan Alumni Universitas Diponegoro Di dalam sebuah seminar, Witjaksono pernah memberikan 3 Kunci Sukses yang wajib dimiliki jika ingin menjadi pebisnis, berikut 3 kunci sukses yang sudah kami rangkum: 1. Menjadi orang yang berani. “ Tak ada orang lembut yang berhasil. Yang berhasil tentu yang berani. Banyak saudara saya, salah satunya yang memiliki Sinar Mas, background- nya amat susah. Tetapi ia berani pada berperan,” kata Mas Witjaksono. Harus berani mengutip aksi yang berbahaya. Witjaksono mengutip ilustrasi pada perihal hutang. Baginya hutang pula amat berarti serta berfungsi besar pada menaikkan aset yang beliau punya. 2. Pembagian porsi dalam dewan direktur harus jelas Wajib terdapat leader biar industri tidak tercerai- berai.“ Semacam suatu negeri, jika pejabat- pejabatnya ribut, masyarakatnya tentu akan ikut ribut juga. Yang jadi korban tentu warga serta pegawai,” kata Mas Witjaksono. 3. Harus bisa akuntansi. Ilmu akuntansi sangat penting menurut Mas Witjaksono. Minimal seseorang CEO bisa membaca informasi keuangan. Tidak wajib ahli akuntansi, tidak wajib bisa membuat laporannya. Bila belum bisa, minimal harus bisa baca novel pengantar ilmu akuntansi. Tujuannya merupakan supaya tidak dibohongi pegawai.“ Ilmu akuntansi itu berarti! Tidak bisa jadi CEO serta konglomerat tidak mengerti akuntansi, minimal CEO serta konglomerat tentu bisa membaca informasi ataupun jurnal,” tutupnya. Itulah sedikit cerita tentang Witjaksono Sang Pengusaha Muda Sukses Indonesia. Mudah-mudahan berguna serta bisa diaplikasikan oleh para calon pebisnis agar berhasil.