[Bisnis][bsummary]
[Kelautan][bigposts]

POROS MARITIM DUNIA : ILUSI ATAU FAKTA?


POROS MARITIM DUNIA
POROS MARITIM DUNIA : ILUSI ATAU FAKTA?
Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia telah berhasil menjadi poros Maritim Dunia dimasanya. Hal tersebut pernah dibuktikan oleh dua kerjaaan besar yaitu Sriwijaya dan Majapahit, dengan kekuatan maritimnya termasuk nafigasi dan angkatan perangnya, mereka telah berhasil megusasi dan mengkolonialisasi Asia Tenggara hingga sampai ke pelosok Nusantara, menjadi center of exelent dibidang maritime yang diakui dunia.


Sebagai negara kepulauan terbesar didunia, Indonesia memiliki posisi setrategis didunia; diapit oleh dua Samudra (Hindia dan Pasifik) dan dua Benua (Asia dan Australia). Dengan total pulaunya berjumlah 17.504 buah. Memiliki garis pantai terpanjang kedua didunia, dengan total luas 99.093 kilometer persegi. Serta memiliki luas daratan yang mencapai 1.919.440 kilometer persegi, dan luas lautnya sekitar 3.273.810 kilometer persegi, ini menandakan Indonesia ini memiliki wilayah laut yang sangat luas mulai dari pulau Sabang sampai Merauke.
POTENSI LAUT INDONESIA
Dari total 90 persen perdagangan internasional yang dilalukan dilaut, lebih dari 40 persen perdagangan tersebut melintasi perairan Indonesia, yaitu melalui Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar. Bahkan nilai kekayaan laut Indonesia diproyeksi mencapai ribuan triliun. Seperti diungkapkan Dewan Kelautan Indonesia, sebagaimana juga telah diungkapkan bappenas, berpotensi mencapai sebesar 171 miliar dollar AS per tahun atau mencapai 2.046 triliun pertahaun (Kadin, 2015). Bahkan menurut Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI) Dr. Yulius Paonganan, M.Sc, potensi laut Indonesia mencapai enam kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni sebesar Rp 7.200 triliun.4
Berdasarkan laporan Mckinsey, Indonesia saat ini adalah ekonomi keenambelas terbesar di dunia, dan diprediksikan oleh Standard Chartered Plc Indonesia akan masuk menjadi 10 diantara negara dengan PDB terbesar didunia pada tahun 2030 mendatang pada urutan ke-4 PDB dengan total PDB 10,1 Triliun US$, tepat setelah Amerika Serikat dengan total PDB 31 Triliun US$. Data ini akan memperkuat sekaligus menegaskan dan mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dimasa depan adalah fakta yang bisa kita wujudkan.
Potensi maritim Indonesia memiliki banyak aspek yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mulai dari industri jasa maritim, sektor perikanan, pariwisata, energi, sektor pariwisata bahari , energy terbarukan, trarportasi laut, minyak bumi dan gas lepas panti serta garam Industri adalah beberapa sector yang bisa dimaksimalkan.
PELUANG INDONESIA MENUJU POROS MARITIM DUNIA
Indonesia seharusnya mampu memanfaatkan posisi geostrategis, geoekonomi dan geopolitik tersebut dengan baik, sehingga dapat memperoleh manfaat dari Poros Maritim. Diantaranya Indonesia harus mampu memanfaatkan kapal-kapal internasional yang melintas melewati laut kepulauan Indonesia yang menjadi jalur utama perdagangan internasional tersebut. Dimana kita tahu saat ini telah terjadi pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari Atlantik ke Mediterrania dan sekarang ke Asia Pasific. Wilayah ini akan menjadi kekuatan ekonomi dunia baru yang tentu akan mengandalkan kekuatan dan strategi maritim untuk bersaing.
Dalam menuju Indonesia sebagai poros Maritim Dunia, itu artinya adalah Indonesia menjadi pusat kegiatan maritim dunia, bukan sekedar kegiatan maritim lokal ataupun kawasan. Diantaranya adalah mewujudkan kota-kota pesisir ‘bandar dunia’ yang akan menjadi kawasan industri dan perdagangan antar bangsa, yang tentu banyak manfaatnya bagi kehidupan ekonomi bangsa Indonesia. Pada tahap awal, adalah meningkatnya nilai tanah, yakni tanah murah menjadi tanah perkotaan modern yang mahal, menyusul berkembangnya industri properti.
Berikutnya berkembang core business seperti industri komponen dan pendukung, perakitan, dan jasa-jasa yang lainnya. Jasa yang sangat strategis dalam perdagangan dan keuangan, di antaranya adalah pelayaran. Indonesia berpeluang mengembangkan armada niaga yang go international, yang pada gilirannya mengembangkan industri strategis perkapalan nasional. Namun dalam mewujudkan kota-kota bandar dunia, dijumpai sejumlah kendala institusi. Salah satunya, tidak adanya satu institusi kementerian/lembaga pemerintah yang menyiapkan grand design lengkap. Oleh sebab itu diperlukan adanya grand design mulai dari perencanaan bisnis, desain fisik, sarana dan prasarana, sistem dan prosedur investasi, pengelolaan aset, kebijakan fiskal dan perbankan, organisasi, sampai mempersiapkan sumber daya manusianya.
PERAN INDONESIA DALAM SISTEM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN
 Untuk membangun Indonesia berperan penting dalam sistem industri dan perdagangan antarbangsa bukan tanpa rasionalitas. Beberapa informasi penting cukup menjadi alasan :
1.   Perdagangan dunia diperkirakan bakal meningkat pesat. Dibanding pada 2005, perdagangan dunia pada 2025 akan menjadi 2,5 kali, dengan nilai mencapai US$ 30 Triliun. Implikasinya, semua kapal dan pelabuhan yang tersedia di dunia tidak akan cukup. Artinya, ini peluang bagi Indonesia untuk membangun armada kapal dan sistem pelabuhan, kendati negara-negara lain juga melakukannya.
2.   Kapal-kapal yang dibangun di dunia cenderung semakin besar, menuju generasi IV, V, dan VI, dengan ukuran 400 ribu DWT, 500 ribu DWT, bahkan 1.200 ribu DWT, yang panjangnya mencapai 500 M, 5 kali panjang lapangan sepakbola. Implikasinya, karena kapal-kapal ini tidak bisa melintasi Selat Malaka, maka harus melintasi Samudera Hindia di sebelah Barat Sumatera, dan selanjutnya melalui ALKI-ALKI.9 Artinya, ini peluang bagi Indonesia untuk membangun pelabuhan-pelabuhan internasional yang bisa melayani kapal-kapal super besar tersebut. Pelabuhan-pelabuhan demikian perlu dibangun di pintu masuk, di sepanjang dan di pintu keluar ALKI, memberikan pelayanan-termasuk alih muatan kapal (transhipment).10
3.   Lembaga di bawah PBB United Nation Conference on the Trade and Development (UNCTAD), memberikan analisis adanya perubahan paradigma dalam perdagangan dunia. Berdasarkan value chain analysis antar industri, pengusaha industri yang semula menghasilkan barang jadi di negaranya masing-masing, cenderung tidak lagi. Pengusaha memilih menempatkan industri komponen dan perakitan di lokasi-lokasi strategis di ‘pertengahan jalan’ dan ‘perempatan jalan’ perdagangan dunia. Ketimbang membuat mobil jadi, yang mahal dan makan tempat di kapal/alat transportasi, lebih baik sebagian komponen dibuat dan dirakit di negara di tengah/perempatan jalan, untuk selanjutnya dibawa ke negara konsumen. Dengan demikian, pengusaha industri mendapat dua keuntungan, yakni ongkos transportasi jadi lebih murah, dan upah yang jauh lebih murah dibanding di negara asal, seperti Eropa dan Amerika. Jelas sekali posisi seperti ini akan sangat menguntungkan Indonesia apabila mampu dikelola dengan baik oleh Negara.
Sebagaimana kita ketahui bersama, saat ini Presiden Joko Widodo telah memfokuskan bahwa geopolitik dimasa pemerintahannya akan memfokuskan pada sektor maritim. Hal inilah yang menjadi angin segar sekaligus harapan baru untuk bangsa Indonesia. Hal ini diperkuat dengan niat Presiden untuk meningkatkan alutsista Angkatan Laut kita. Dengan kenyataan bahwa Indonesia terletak di posisi strategis bagi perdagangan dunia dan statusnya sebagai negara kepulauan, mau tidak mau Indonesia harus berperan dalam keamanan navigasi internasional. Konsekuensinya Angkatan Laut harus ditingkatkan untuk mengontrol, mengawasi dan melindungi keamanan maritim.
Peningkatan kekuatan Angkatan Laut berguna untuk menegakkan tertib hukum di perairan Indonesia dan menunjukkan keseriusan Indonesia terhadap perlindungan domain maritimnya, begitu juga perlindungan kedaulatan di perbatasan laut Indonesia sekaligus yang terpenting mampu memberikan rasa aman kepada setiap kapal asing yang melintasi perairan Indonesia.
[Kelautan][twocolumns]